Sampai di sini, yang pertama dilakukan adalah urus visa kunjungan. Di sini suasana islami bener-bener terasa deh. Tidak ada percampuran antara antrian pria dengan wanita, semua terpisah. Lebih tepatnya tidak ada kesempatan saling melecehkan secara seksual. Pemeriksaan kesehatan yang paling berat, mereka seenaknya suruh kita buka-buka baju dan raba-raba area yang sensitif hehe… kan geli. Pemberdayaan pekerja pribumi boleh diacungi jempol (… kaki, bau kan??) sayangnya mereka kurang dibekali skill seperti keahlihan mengoperasikan komputer, kamera digital, dan yang terpenting bahasa inggrisnya. Kemampuan bahasa arabku yang pas-pasan jadinya sering melibatkanku pada percakapan yang tak tau maksud, tujuan bahkan content-nya, hehe… Bisa dibayangkan, kejadian selanjutnya lebih tepat disebut LOST IN TRANSLATION.